Blog · Rumah Kelinci Mungil
Pertama Kali Anak Usia 8 Tahun Belajar Berjualan Dari Hasil Kebun
Bismillah.
Biidznillah, tanggal 8 Agustus kemarin aku ajak Adam untuk menyemai benih bayam. Aku menawarinya, apa mau belajar berjualan dari hasil panen yang ditanamnya sendiri? Dan dia menjawab mau.
Sekali dua kali waktu, dia bersemangat menyirami, tapi adakalanya dia lupa atau bahkan minta tolong untuk bisa disiramkan dulu olehku karena dia sedang ada aktivitas yang menurutnya seru.
Tak apa, aku maklumi. Mungkin belum terlihat jelas prosesnya, timpalku dalam hati.
Sampai saat safar pun tiba, tugas menyiram dibantu neneknya selama dua minggu. Dan dengan izin Allah, ketika kami pulang, para bayam ini sudah tumbuh tinggi.
Hingga waktu panen pun tiba.
Aku memberi ruang untuk Adam mengiklankan barang dagangannya sendiri. Yang terpikir olehku, mengiklankan online, karena meskipun setahun di sini kami masih belum terlalu banyak memiliki kenalan.
Aku izin pada pelatih renang, apa boleh Adam mengiklankan barang dagangannya di grup WhatsApp. Alhamdulillah, kami diizinkan.
Di hari Ahad, tanggal 6 September Adam menawarkannya, mengetiknya sendiri, didampingi olehku yang diam di sebelahnya. Senyumnya lebar saat-saat itu.
Dia selalu tanya, “Apa sudah dibalas? Apa ada yang pesan?”
Alhamdulillah, teman-teman ada beberapa yang pesan dan itu membuat dirinya makin berdebar semangat menunggu hari di mana para bayam harus dipanen.
Saat hari H, karena aku buru-buru dikejar waktu perjalanan ke kolam, kami bagi tugas. Aku mengerjakan bayam yang akan diserahkan pada pembeli, Adam bertugas mengambil bayam-bayam kecil yang masih sangat bisa dikonsumsi di rumah.
Sambil fokus, merangkai, membersihkan, menimbang dan mengikat, aku bilang,
“Perhatikan Bunda ya, Insyaa Allah panen selanjutnya Adam bisa melakukannya sendiri.”
Seikat, dua ikat, hingga akhirnya tersusun sembilan ikat bayam merah dan bayam batik belang. Selesai, dan aku pun berpamitan untuk pergi kelas berenang.
Dari sembilan ikat, kami memberikan satu ikat untuk nenek karena nenek telah membantu Adam menyirami bayam-bayam saat kami safar.
Sisanya ada delapan ikat, dan dari delapan itu, hanya enam ikat yang terpesan. Akhirnya aku menawarkan pada ummahat yang juga ada di kolam.
Biidznillah, Allah menginginkan kebahagiaan di hati anakku, kataku. Semua terjual.
Dan aku pun pulang..
Biasanya, kata sambutan setiap sampai rumah adalah, “Bunda, bawa oleh-oleh apa?”, tapi kini berganti jadi, “Bunda, mana uang hasil jualannya?”
MasyaaAllah, Allahumma Baarik.
Sebelum uang ini aku berikan, ada nilai yang aku sampaikan,
“Nak, uang ini adalah rezeki yang telah Allah tetapkan untuk Adam. Adam menanam, mengiklankan, lalu packing sayur, Bunda yang sampaikan pada yang beli. Itu adalah langkah-langkah Adam dan Bunda sebagai bentuk ikhtiar menjemput rezeki, bukan lagi mencari. Karena Allah sudah menetapkannya untuk Adam.
Segala sesuatu yang besar, berawal dari hal yang kecil. Katanya uang ini akan ditabung untuk umrah?”
Dia mengangguk.
“Coba bayangkan Adam tidak menanam, apa Adam bisa menjual sesuatu? Lalu bisa dapat uang?”
Lalu dia menggeleng.
“Artinya Adam tidak mengambil langkah kecil untuk Adam bisa mencapai langkah besar Adam supaya bisa berangkat umrah.”
“Jadi ini adalah langkah kecil Adam untuk bisa ke Ka'bah. Untuk bisa pergi umrah Adam butuh 80.000 yang lebih banyak lagi. Semoga Allah berkahi uang ini, dan bisa pergi ke Ka'bah. Aamiin.”
Allah yang memudahkan segala prosesnya, Allah yang menghadirkan AHA moment untuk membuat gagasan belajar berjualan dari hasil kebun, dan Allah yang hadirkan kesempatan ini untuk kami belajar.
Berbagi cerita, bukan berarti diri ini wah. Tapi semoga bisa menularkan energi positif dari hal-hal yang kami lewati, kami pelajari, dan kami rasakan.
Dilihatnya kami sedang mengajar, tapi nyatanya kami yang belajar kembali dari setiap momen kami membersamai Adam.